Tampilkan postingan dengan label life's lesson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life's lesson. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2012

Suicide in love: Just like ready to death for you


But there’s a side to you
That I never knew, never knew.
All the things you’d say
They were never true, never true,
And the games you play
You would always win, always win…
There are a lot of things about you that I told you before that I discovered, feels like gambling from table to table. Just in case, trying to trust you, for those things that never true. I failed to told you, that make me loosing the game of your heart…

I set fire to the rain
And I threw us into the flames
Where it felt something die
‘Cause I knew that that was the last time, the last time!
I just can coming in to you. In every single second we met, I try so hard to do anything. indirectly, trying to show you what was burning in my heart. that blow my head so bad, and that is YOU.

Sometimes I wake up by the door,
That heart you caught must be waiting for you
Even now when we’re already over
I can’t help myself from looking for you.
I often awake in the middle of night, if a long the day I didn’t see you, listen to your voice or even there is no news about you. And automatically coming to your house in silent and unconsciously. Looking at you window, guessing what you do there and hope that you already fine. or visiting all places that we visited together. I’m nearly insane, because of you.

I set fire to the rain,
Watched it pour as I touched your face,
Well, it burned while I cried
‘Cause I heard it screaming out your name, your name

At last, I can do nothing. I can’t make you understand what I feel and erase your love either. I just can stay, staying to love you. Pretend that nothing happen, and waiting that it would be die, what I feel about you or even me.

Senin, 22 Agustus 2011

Dan bisa-bisanya gempa itu gak kerasa, atau emang gwe yang bebel ya?

Wisma Sari Kenangan, Depok, Minggu, 21 Agustus 2011 (21 Ramadhan 1432 H)

Gwe terusik, 
Gwe terperangah,
Dan oke gwe lebay tapi gusar !! 

Saat tau bahwa gwe melewatkan salah satu kejadian penting yang baru terjadi, gwe ngelewatin ngerasain gempa,, (ups, please jangan buru2 judje gwe takabur atau gak bersyukur!) Please banget lihat dulu dari sudut pandang gwe, Gini ya guys, gwe mau bilang kalau gwe terusik, iya banget gwe terusik. Gimana gak, bisa bisanya gwe gak ngerasain gempa yang menurut account twitter yang menginformasikan tentang gempa bahwa telah terjadi guncangan sebesar 5.2 Skala Richter pada 21 Agustus 2011 pada pukul 23:54:21 WIB, dengan koordinat Lokasi :7.57 LS,106.64 BT (78 km BaratDaya SUKABUMI-JABAR), pada kedalaman:35 Km itu, dan gwe cuma bisa bengong sementara di TL twitter gwe orang pada mulai sibuk cari tahu bahwa guncangan yang mereka alami beberapa saat lalu adalah gempa atau hanya ilusi semata, 

Aish.. Ini pasti gara-gara gwe sibuk chatingan whatsapp sampe guling-gulingan sama si @doddoy '-.- 


Balik lagi ke gusarnya hati gwe yang kian terusik, bukan apa-apa ya guys, gini-gini gwe tuh biasanya orang yang "happening" dan sensitif sama gejala alam kaya gini. Sumpah gwe jujur!! Silakan chek dan bandingin sama toko sebelah!! 

Ini terbukti waktu suatu sore di hari Jumat gwe dan sejumlah warga Indonesia (oke ini lebay) maksud gwe sejumlah warga FISIP lainnya ngerasain gempa yang lumayan hebat. Waktu itu gwe dan sejumlah orang di MBRC-perpus FISIP UI- yang lagi khusyuk di lantai 3 mengalami guncangan hebat. Spontan aja semua orang panik, beberapa ada yang histeris. Dan waktu itu entah kenapa gwe dengan spontan (dan ehem, cool) sontak berdiri dan menenangkan orang-orang di sekitar gwe dan mengarahkan mereka untuk secara tenang, perlahan dan tertib mengevakuasi diri ke luar gedung dan mencari tempat terbuka. Bukan apa-apa guys, dari yang pernah gwe denger bahwa ternyata jumlah korban akan bertambah secara signifikan karena mereka panik saat terjadinya gempa, dan menurut gwe itu gak asik kalau terjadi di sekitar gwe saat itu. 

And you know guys? 

Reaksi spontan gwe itu bukannya dapet penghargaan malah jadi bahan ledekan temen-temen sejurusan gwe. Mereka dengan girangnya meragain cara gwe berdiri sambil ngajuin tangan dan bilang "tenang-tenang, jangan panik, satu persatu ya keluarnya" dengan gaya yang please... di lebay-lebay-in (atau emang sebenernya gaya gwe itu emang lebay ya?). Pokoknya, menurut gwe itu cukup untuk membuktikan deh kalau gwe adalah orang yang sensitif dan "happening" sama gejala-gejala alam. 

Well, terlepas dari semua itu, gwe mau membenarkan judjemental lw semua tentang gwe di awal. Yupz, kita disini yang gak kena efek negatif dan destruktif harus merasa beruntung dan bersyukur karna gak terjadi sesuatu yang buruk sama kita, orang-orang yang kita sayangi dan orang-orang di sekitar kita. Karena please banget, lw bayangin aja kalau dalam guncangan sekian detik itu lw bisa aja gegar otak karena kejatohan jam dinding atau sekedar benjol karena kejedot saat berasa limbung akibat guncangan. Sekali lagi, kita memang patut bersyukur sama Tuhan YME dan gak lupa buat berdoa semoga tidak ada yang menjadi korban akibat gempa tersebut dan semua baik-baik aja. Lebih jauh lagi sebaiknya kita juga mulai bersifat sensitif dan tanggap akan hal-hal semacam ini ya guys guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dan gak lupa mari kita berdoa agar segenap Bangsa dan Negara, Tanah Air Indonesia yang Tercinta akan slalu baik-baik saja, terhindar dari segala marabahaya dalam Lindungan, Penjagaan dan Pemeliharaan dari Tuhan YME, amien :)

Always Keep Alert and Be Positive,
Best Regard,,

Selasa, 16 Agustus 2011


Suatu benda tidak akan berubah sampai ada benda lain yang memaksanya berubah,,
---cin(t)a---

Rabu, 10 November 2010

Hujan, Dulu dan Kini...

Kawan, entah apa yang istimewa dari perubahan cuaca ini, namun hujan slalu berhasil membawa anganku jauh melayang, menembus akal dan logika ku serta derasnya air yang membasahi bumi. Hujan sore ini memang beda, mungkin Tuhan sengaja menurunkkannya untuk mendinginkan suhu bumi, atau lebih tepatnya, mendinginkan suasana hati manusia di bumi Indonesia yang sempat memanas beberapa waktu lalu. Mungkin karna panasnya Merapi di Jogjakarta beserta hujan abu dan awan panasnya, atau karena hal yang lebih ringan, macetnya jalanan karna mekanisme buka tutup jalan untuk iring-iringan Obama yang sedang berkunjung di Indonesia. Intinya, hujan memang beda.

Jika diawal masa kuliah saya di Depok, saya merasa bahwa hujan memang diturunkan untuk keindahan. Untuk menambah asrinya hutan kota di UI, menyegarkan hawa Depok yang panas, membangkitkan embun dan kabut di udara atau secara personal, merilekskan tubuh dan fikiran saya setelah menjalani perkuliahan dasar dan serangkaian kegiatan ospek yang kadang menyenangkan tapi tak jarang menyebalkan. Saat itu, hujan slalu saja sukses mengantar saya terlelap dengan cepat yang membuat saya terbangun keesokan harinya dengan semangat baru. Ya, bagi saya hujan slalu membawa harapan, penuh mimpi, angan dan cita-cita. In that time, I love the rain.

Lantas bagaimana dengan kini? Hujan telah berbeda, ia tak lagi menenangkan, malah mensunyikan suasana. Membuat saya secara mendadak mengevaluasi diri. Apa yang saya lakukan kini? Telah tercapaikah semua harapan dan angan-angan yang hampir empat tahun lalu saya gantungkan dulu? Atau, secara tragis mengingatkan saya akan sederet kegagalan yang saya lalui atau bahkan kehilangan dan rasa sakit. Damn, now I hate the rain.

Sambil melihat dari jendela kosan saya, saya memperhatikan air hujan. Dari langit, dia turun, mampir sebentar di atap dan talang air, merembes di dinding dan mengalir ke pelimbahan, dan seterusnya. Jauh. Bahkan sampai tak terjangkau dengan daya khayal saya. Enak ya jadi hujan, terus mengalir dalam bentuk air.

Tidak seperti saya, yang hanya tertahan disini, entah sampai kapan.

Minggu, 10 Januari 2010

I see you...

You become us not caused by you were born as,
But when your heart call and say,
That you are part of us...

we forget that we were born in a nature,
Having part by nature,
We only think to survive,
To keep exsist...

It is right..

But we forget,
There is a better way that God teach us to do...
we have to communicate well,
 We have to feel the nature exactly...
And those way only possible happen..
If we could remember,

That we comes from the nature,
And we are the part of the nature...


.:what I learn after watch Avatar:.